BUKAN BASA-BASI
Matius 21:23-32
Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Tentu saja ini merupakan hal yang positif. Namun, kita juga perlu mencermati bahwa bentuk negatif dari keramahan adalah basa-basi. Kita sering menanyakan kabar hanya sebagai basa-basi, bukan sungguh-sungguh ingin mengetahui keadaan. Kita juga memuji, tetapi ternyata tidak dilandasi ketulusan, melainkan sekadar basa-basi.
Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang anak yang diminta ayah mereka untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menolak, tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Anak kedua mengatakan “ya”, tetapi ternyata ia tidak pergi. Mungkin saja anak kedua itu sekadar menjawab sebagai basa-basi agar terlihat baik. Anak pertama merepresentasikan pelacur dan pemungut cukai yang berdosa, tetapi kemudian menyesal dan percaya. Anak kedua melambangkan mereka yang tidak sungguh-sungguh menyesal, bahkan tetap tidak percaya. Hanya kita dan Tuhan yang mengetahui kadar ketulusan dalam diri kita.
Hanya kita yang tahu apakah penyesalan yang kita ucapkan dalam doa hanyalah sekadar basa-basi atau sungguh-sungguh merupakan penyesalan atas kesalahan kita. Kita juga yang paling tahu apakah perkataan kita dalam relasi dengan sesama dilandasi ketulusan atau hanya basa-basi. Marilah, kita belajar untuk tidak terjebak dalam keramahan yang tidak tulus atau berkata sekadar karena tidak enak hati. (Wasiat)
REFLEKSI: Belajarlah menjadi orang yang tulus dan bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita.